Pedoman Siswa Pecinta Alam (SISPALA)
Sispala merupakan singkatan dari Siswa Pecinta Alam. Sispala adalah kelompok pecinta alam yang bernaung di setiap sekolah di bawah kepengawasan kepala sekolah atau pun wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Dan ada juga yang berdiri sendiri. Ini semua tergantung kebijakan pengurus masing-masing. Sebagian besar Sispala termasuk organisasi ekstrakurikuler.
Sispala sendiri bukan nama mutlak dari organisasi kepecinta alaman yang ada di setiap sekolah. Sebab tidak sedikit yang menggunakan nama yang telah disepakati oleh pendiri kelompok pecinta alamtersebut. Akan tetapi, secara umum orang sudah paham bahwa setiap organisasi pecinta alam di tingkat sekolah adalah Sispala. Kesimppulannya adalah, bahwa saat ini Sispala sendiri hanya sebutan tidak resmi kelompok pecinta alam tingkat sekolah di Indonesia. Analisa Masalah Bila dibandingkan dengan organisasi ekstrakurikuler di setiap sekolah yang ada di Indonesia, Sispala adalah organisasi yang mampu melahirkan insan yang sehat secara mental, jasmani maupun rohani. Dan tentunya tergantung kepada proses pembinaannya. Yang menjadi kendala dalam proses perkembangannya adalah Sispala belum mempunyai ikatan secara nasional. Dan pada akhirnya menyebabkan kebingungan para organisator dalam menghimpun rencana strategis secara massal. Jangankan secara sistemik, dalam menjalin komunikasi eksternal pun sulit. Padahal bila ada kesatuan visi dan misi secara nasional, Sispala sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Baik dibidang pendidikan, sosial, seni budaya, olah raga, lingkungan, maupun kemanusiaan. Usaha Pembenahan Dikarenakan belum adanya sinergisitas dalam melahirkan visi dan menjalankan misi secara menyeluruh, ada baiknya organisasi sispala seluruh indonesia melakukan pembentukan Ikatan Secara Nasional Evaluasi Masalah di Tingkat Regional dan Melakukan Perumusan Administrasi dan Rencana Strategis. Pertama, pembentukan ikatan secara nasional. Ini berfungsi agar adanya legalitas kita dalam melakukan segala macam bentuk rencana kerja dan sejenisnya. Kedua, evaluasi masalah di tingkat regional. Ini tentu ada hubungannya dengan poin pertama, yaitu ketika kita melakukan pembentukan ikatan secara nasional melalaui kongres atau sejenisnya, kita akan membuat forum khusus guna mengevaluasi segala macam bentuk permasalahan, hambatan ataupun lainnya yang dihadapi di daerah masing-masing. Sehingga menghasilakan kesamaan dalam cara membenahi problematik tersebut. Ketiga, Melakukan perumusan administrasi dan rencana strategis. Ini adalah tahap akhir dari dinamika yang timbul ketika proses pembentukkan dan evaluasi. Tentunya masih banyak lagi formulasi dalam pembenahan ini.
- PRINSIP DASAR PETUALANGAN DAN PECINTA ALAM :
- Dalam pelaksanaan kegiatan petualangan terdapat etika dan prinsip dasar yang sudah disepakati bersama. Etika dan prinsip dasar tersebut muncul sebagai rasa tanggung jawab kepada alam. Selain didukung dengan perlengkapan dan peralatan yang memadai, juga dalam petualangan mutlak diperlukan kemampuan yang mencukupi. Kemampuan itu adalah kemampuan teknis yang yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan gerakan serta efisiensi penggunaan perlengkapan.Sebagai contoh, pendaki harus memahami ritme berjalan saat melakukan pendakian, menjaga keseimbangan pada medan yang curam dan terjal sambil membawa beban yang berat serta memahami kelebihan dan kekurangan dari perlengkapan dan peralatan yang dibawa serta paham cara penggunaannya.
- Kemampuan kebugaran yang mencakup kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam. Berikutnya, kemampuan kemanusiawian. Ini menyangkut pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi / kemauan, percayadiri, kesabaran, konsentrasi, analisis diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.
- Seorang pendaki seharusnya dapat memahami keadaan dirinya secara fisik dan mental sehingga ia dapat melakukan kontrol diri selama melakukanpendakian, apalagi jika dilakukan dalam suatu kelompok, ia harus dapat menempatkan diri sebagai anggota kelompok dan bekerja sama dalam satu tim.
- Tak kalah penting adalah kemampuan pemahaman lingkungan. Pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan spesifik. Wawasan terhadap iklim dan medan kegiatan harus dimiliki seorang pendaki. Ia harus memahami pengaruh kondisi lingkungan terhadap dirinya dan pengaruh dirinya terhadap kondisi lingkungan yang ia datangi.
Keempat aspek kemampuan tersebut harus dimiliki seorang pendaki sebelum ia melakukan pendakian. Sebab yang akan dihadapi adalah tidakhanya sebuah pengalaman yang menantang dengan keindahan alam yang dilihatnya dari dekat,tetapi juga sebuah resiko yang amat tinggi, sebuahbahaya yang dapat mengancam keselamatannya.
- PENDAKI PEMULA
Memang, kegiatan petualangan, khususnya pendakian gunung pasti di awali dengan mencoba dan berpredikat pendaki pemula, tetapi setelahnya semoga bisa menjadi pendaki yang konservatif serta pendaki profesional. Dan berikut ini sedikit saran bagi pendaki pemula dan juga untuk menambah pengetahuan dengan hal sederhana bagi pendaki profesional sekalipun. Karena tidak bisa kita pungkiri, sekarang ini gunung bukan lagi tempat sulit untuk dikunjungi. Sudah banyak orang yang memilih gunung sebagai tujuan liburan. Tapi, tidak semua orang tahu hal – hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika naik gunung.
Berikut adalah tips dan perlengkapan dasar untuk mendaki gunug :
- SEPATU
- GUNAKAN KAOS
- SENTER
- BAWALAH BARANG YANG PENTING SAJA
- BAWALAH PAKAIAN SECUKUPNYA
- GUNAKAN ANTI NYAMUK
- JANGAN MEMAKAI PARFUM
- ALAT MASAK
SEMOGA MEMBANTU :)
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA BLOG SAYA UNTUK YANG KEDUA KALINYA :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar